Rabu, 01 Februari 2012

Membangun Karakter Anak-anak Mulai dari Rumah


Masa kecil adalah masa pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan pada manusia. Diakui atau tidak, perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi kita tentang kehidupan dipengaruhi oleh masa kecil kita. Ajaibnya, semua itu dibentuk bukan lewat tutorial, melainkan diawali oleh pikiran dan persepsi orang tua atas anak-anaknya.
Pembentukan karakter anak-anak dimulai dari rumah, bukan menjadi tugas sekolah.
Dirumahlah anak-anak dibentuk, bagaimana cara bersikap, bagaimana cara dia berlaku di kehidupan sosial sebenarnya sumbernya dari rumah.
Tugas orang tua untuk membentuk karakter anak-anak ini. Latihlah mereka dengan beberapa methode pembentukan karakter, antara lain dari cara berfikir, karena dari pikiranlah semua tindakan mereka akan muncul.

Tak percaya?
Sebuah buku berjudul Mind Power for Children yang ditulis oleh John Kehoe dan Nancy Fischer menjelaskan tentang hal tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Buku setebal 201 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Think Yogyakarta.
Persepsi kita terhadap anak-anak ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap cara kita memperlakukan mereka dan cara kita berbicara atau bersikap terhadap mereka, dan hal itu pun akan menular pada anak-anak tanpa kita sadari.
Bayangkan ketika kita sedang emosi karena masalah dengan suami, atau masalah dengan pekerjaan yang mereka tidak tahu apa masalahnya.  Kita marah-marah di rumah, atau bahkan dengan suara keras.  Apa yang dipikirkan oleh anak-anak kita?? Yakinlah mereka pun akan merasakan ketidaknyamanan itu secara otomatis.
Pada bagian awal buku ini dikatakan, “Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.”

 Mengajarkan Pikiran Positif pada Anak
Melatih anak untuk berpikir positif juga diawali dengan melatih mereka untuk mempergunakan kalimat positif dan menghindari kalimat negatif.
Bagaimana menjelaskan tentang perbedaan pikiran negatif dan positif pada anak-anak menurut penulis buku ini adalah dengan membuat perumpamaan. Pikiran itu ibarat taman. Pikiran positif itu adalah bunga yang membuat kita senang ketika melihatnya, sedangkan pikiran negatif adalah rumput liar yang membuat bunga terlihat kacau dan kita yang melihatnya merasa terganggu. Supaya bunga tumbuh dengan baik, maka sesering mungkin kita harus menyingkirkan rumput liar yang ada di sekelilingnya.

Kekuatan Kata-Kata
Ketika kita sekolah dulu, mungkin pernah mendengar istilah diksi (pilihan kata). Ternyata, hal itu sangat penting diperhatikan dalam mengarahkan pikiran kita dan anak-anak.
Kata-kata adalah lukisan verbal dari pikiran dan perasaan. Kesan yang ditangkap anak-anak dari kata-kata yang kita ucapkan akan diolah sedemikian rupa oleh otak mereka.
Satu hal yang menarik, anak-anak ternyata akan lebih fokus pada kata terakhir yang mereka dengar daripada uraian kata di awal kalimat, betapapun penting dan panjangnya kata-kata pada awal kalimat tersebut.

Lawan dari kalimat negatif adalah kalimat positif. Mempergunakan kalimat positif akan mengarahkan pikiran kita pada apa yang kita inginkan, sedangkan kalimat negatif mengarahkan pikiran pada apa yang tidak kita inginkan.
Misalnya kalimat, “Saya tak mau gagal lagi.” Itu adalah kalimat negatif yang lebih mungkin dipersepsi pikiran kita menjadi “gagal lagi”. Namun sesungguhnya kalimat itu bisa berubah postif jika pilihan kata yang kita gunakan adalah, “Kali ini saya akan berhasil”.

Kekuatan Afirmasi
Beragam hal dalam kehidupan anak-anak terkait pertemanan, persepsi diri, kemampuan-kemampuan
Kemarin malam, ketika anak saya yang bungsu akan berlomba mewarnai dia tidak ada persiapan apa-apa karena sibuk main bola.  Karena saya percaya betul dengan kekuatan kata-kata, pada saat menjelang tidur saya katakan" adek, besok ikut lomba mewarnai kan...? antara sadar dan tidak karena mulai terlelap dia menganggukan kepala...Maka saat itulah saatnya saya masukkan kata-kata positif.  " Adek kan pintar, anak kesayang bunda, gambarnya yang bagus ya...warnanya jangan keluar garis.... Eh dia menganggukkan kepala dengan mata terpejam.Esoknya hasil lomba mewarnai tidak begitu jelek menurut saya, meskipun harus puas dapat juara 3. Satu pengalaman yang baik buat kita-kita sebagai ibu. intelektual, ataupun optimisme pribadi erat hubungannya dengan bagaimana mereka memikirkan itu semua.
Afirmasi adalah cara paling mudah untuk mengarahkan pikiran dan bahkan keadaan yang negatif menjadi positif.